Serangkaian Prosedur Untuk Melakukan Bayi Tabung

Tujuan dari pernikahan adalah melahirkan keturunan. Namun, jika hal itu tidak tercapai setelah bertahun-tahun menikah, bahkan setelah melakukan serangkaian pengobatan hingga inseminasi buatan, maka pilihan terakhir yang dapat diambil adalah bayi tabung.

Bayi tabung atau in fitro vertilization (IVF) merupakan proses pembuahan sel telur oleh sperma di luar tubuh. Setelah dirasa embrio siap dan dinyatakan tidak mengalami kecacatan genetik, maka bakal bayi tersebut dimasukkan ke dalam rahim melalui kateter.

Dalam pelaksanaan bayi tabung, dibutuhkan banyak persiapan. Tidak hanya dari segi keuangan mengingat biaya untuk melakukannya sangat mahal, tapi juga mental dan fisik. Pasalnya, proses setelah janin dimasukkan ke dalam rahim akan menguras emosi dan tenaga, terutama untuk si ibu.

prosedur bayi tabung

Kapan Bayi Tabung Dilakukan?

Agar bayi tabung memiliki tingkat keberhasilan tinggi, biasanya dilakukan pada wanita berusia antara 23-39 tahun. Namun, lebih ideal lagi jika wanita berusia kurang dari 35 tahun.

Ada beberapa alasan yang dipakai untuk melakukan prosedur bayi tabung, seperti:

  1. Terjadinya gangguan pada tuba falopi yaitu berupa kerusakan atau adanya sumbatan yang menghalangi jalur sel telur.
  2. Ovulasi mengalami gangguan yang berakibat produksi sel telur sedikit sehingga tidak dapat dilakukan pembuahan oleh sperma.
  3. Kualitas produksi sperma pasangan rendah.
  4. Kekebalan tubuh wanita ataupun pasangan yang pada akhirnya mengganggu produksi sel telur dan sperma.
  5. Adanya risiko penyakit keturunan atau masalah ketidaksuburan yang tidak diketahui penyebabnya.

Prosedur Bayi Tabung

Dengan melakukan proses IVF, maka masalah-masalah tersebut dapat teratasi. Prosedur untuk melakukan bayi tabung sendiri, berikut serangkaian yang harus dilakukan:

  1. Sebelum proses alternatif tersebut dilakukan, Anda harus mengetahui siklus menstruasi. Beberapa dokter akan menyarankan untuk menggunakan pil kontrasepsi. Hal ini dapat mencegah terjadinya risiko sindrom hiperstimulasi ovarium dan kista ovarium.
  2. Setelah ovarium berhasil melepaskan sel telur, dokter akan memberikan antagonis GnRH (seperti Ganirelix) atau agonis GnRH (seperti Lupron), yang berfungsi untuk mengontrol siklus ovulasi pada saat proses bayi tabung dimulai.
  3. Selanjutnya, Anda akan diminta melakukan USG (transvaginal ultrasound) untuk melakukan pengecekan keadaan ovarium. Jika terdapat indikasi adanya kista atau penyakit tertentu, maka dokter akan melakukan penanganan terlebih dahulu sebelum melanjutkan proses bayi tabung.
  4. Suntik hormon kesuburan mungkin akan diberikan oleh dokter agar dapat memproduksi sel telur dalam jumlah banyak dalam satu waktu.
  5. Dokter akan melakukan USG atau tes darah untuk melakukan pengecekan kesiapan sel telur sebelum nantinya diangkat dan dibuahi oleh sperma di luar.
  6. Selama proses diambilnya sel telur dalam rahim, dokter mencari folikel ovarium melalui USG dan mengambilnya menggunakan jarum berongga. Umumnya dibutuhkan waktu sekitar setengah sampai 1 jam. Anda akan diberi Pereda nyeri, obat bius di tempat, atau bahkan bius total, tergantung kondisi Anda nantinya.
  7. Pada hari yang sama, pasangan juga harus melakukan serangkaian untuk mengeluarkan sperma. Sebab, setelah sel telur dikeluarkan harus lekas dipertemukan dengan sperma pada hari itu juga. Selanjutnya, proses pembuahan dilakukan di dalam tabung.
  8. Ketika embrio dalam tabung sudah cukup matang, bakal janin tersebut pun dimasukkan ke rahim. Dalam prosesnya, menggunakan kateter atau tabung penyalur ke rahim melalui vagina. Biasanya, dokter akan memasukkan lebih dari satu embrio agar memperbesar kemungkinan keberhasilan proses.
  9. Dua minggu setelah proses tersebut, Anda harus melakukan tes kehamilan untuk memastikan apakah proses tabung berhasil ataukah tidak.

Dalam prosedur untuk melakukan bayi tabung, kesehatan dan tingkat stres wanita harus dijaga. Pasalnya, faktor ini juga dapat menjadi penentu keberhasilan dari proses tersebut. Ketika sudah berhasil pun, kondisi janin tetap harus dijaga. Pasalnya, pembuahan melalui bayi tabung lebih rentan mengalami keguguran dibanding pembuahan alami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *