Apa Itu Kardiotokografi dan Mengapa Tes Ini Sangat Disarankan Saat Kehamilan Masuk usia Trimester Ketiga?

Ketika hamil, ada beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan oleh ibu, salah satunya adalah tes kehamilan kardiotokografi. Lalu, apa yang dimaksud dengan tes kardiotokografi? Apakah semua ibu hamil perlu melakukan tes ini? Berikut adalah pembahasan selengkapnya.

Mengenal Tes Kehamilan Kardiotokografi (CTG)

alat kardiotokografi

Kardiotokografi merupakan tes kehamilan yang bertujuan untuk mengecek kesehatan janin. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan saat trimester ketiga, yakni saat usia kehamilan menginjak tujuh sampai sembilan bulan. Dalam tes kardiotokografi, pemeriksaan yang dilakukan adalah pengamatan detak jantung janin, gerakan janin, serta kontraksi rahim.

Kehamilan dikatakan normal apabila denyut jantung janin dalam keadaaan reaktif, janin bergerak aktif, serta kontraksi rahim kuat. Idealnya, detak jantung janin berkisar antara 110 sampai 160 denyut per menit, dan akan meningkat saat ia bergerak.

Selain mengecek kesehatan janin, tujuan lain dari tes kehamilan kardiotokografi adalah untuk mengetahui apakah janin mendapatkan suplai oksigen yang cukup dari plasenta. Apabila kadar oksigen yang diterima oleh janin rendah, janin kemungkinan tidak akan merespon dan menunjukkan pergerakan yang tidak normal sehingga perlu dilakukan penanganan lebih lanjut.

Tidak Semua Ibu Hamil Perlu Melakukan Tes kardiotokografi

Tidak semua ibu hamil perlu melakukan tes kardiotokografi. Berikut adalah beberapa kondisi yang menyebabkan ibu hamil perlu melakukan tes kehamilan kardiotokografi.

  • Mengandung anak kembar dan mengalami komplikasi
  • Ibu hamil merasa gerakan bayi melambat atau tidak teratur
  • Ibu hamil merasa ada masalah pada plasenta
  • Cairan ketuban sedikit
  • Perdarahan antepartum
  • Ibu hamil memiliki kebiasaan merokok, bahkan saat masa kehamilan
  • Ibu hamil berusia di atas 35 tahun
  • Ibu hamil mengalami preeklamsia atau eklamsia
  • Memiliki riwayat komplikasi pada kehamilan sebelumnya
  • Memiliki penyakit diabetes, jantung, hipertensi, ginjal, anemia, serta tiroid
  • Sentisiasi rhesus, kondisi ketika golongan darah ibu memiliki rhesus negatif sementara janin memilili golongan darah rhesus positif
  • Waktu persalinan ditunda hingga dua minggu

Jika ibu hamil mengalami kondisi-kondisi seperti di atas, dokter biasanya akan menyarankan melakukan tes kehamilan kardiotokografi sebanyak satu kali atau dua kali seminggu, tergantung dari kondisi kesehatan ibu dan bayi. Apabila dokter mencurigai janin tidak mendapat cukup oksigen, tes ini bahkan bisa dilakukan setiap hari untuk memantau keadaan janin.

Cara Melakukan Tes kardiotokografi

tes kehamilan kardiotokografi

Dalam melakukan tes kardiotokografi, ada dua alat yang ditempelkan pada perut ibu hamil, yakni alat untuk mengukur detak jantung janin (doppler) dan alat untuk mengukur kontraksi rahim. Selama tes, ibu hamil harus tetap duduk atau berbaring sekitar 20 sampai 60 menit.

Ketika tes berlangsung, dokter nantinya akan mengamati apakah detak jantung janin berdetak lebih cepat ketika ia bergerak di dalam rahim. Jika selama 20 menit bayi tidak juga bergerak aktif atau sedang tertidur, maka tes akan diperpanjang lagi untuk mengecak kondisi pastinya. Apabila janin tetap tertidur, dokter biasanya akan mencoba merangsang janin dengan cara menempelkan perangkat yang dapat menciptakan suara pada perut ibu untuk membuat janin terbangun dan kembali bergerak.

Hasil Tes kardiotokografi

Hasil akhir dari tes kehamilan kardiotokografi adalah reaktif atau tidak reaktif. Hasil reaktif menunjukkan bahwa detak jantung janin meningkat dalam jumlah yang diharapkan ketika dilakukan tes. Sementara, hasil tidak reaktif menunjukkan detak jantung janin yang tidak meningkat.

Apabila pengulangan tes dan pemberian rangsang pada janin sudah dilakukan tetapi hasil tetap tidak reaktif, maka kemungkinan ada masalah yang perlu ditindaklanjuti. Biasanya, masalah tersebut terjadi karena janin kekurangan oksigen.

Pada beberapa kasus, jika kondisi detak jantung tidak juga mengalami peningkatan seperti yang diharapkan saat usia kehamilan sudah mencapai 39 minggu, dokter akan menyarankan persalinan dini. Namun apabila usia kehamilan masih di bawah 39 minggu, dokter akan melakukan pengecekan lanjutan dengan melihat profil biofisik dan contraction stress test untuk memeriksa masalah yang terjadi di dalam rahim.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai tes kehamilan kardiotokografi. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *