Dampak Negatif Adanya Klinik Aborsi di Suatu Negara

Pada akhir abad 19 aborsi dianggap ilegal di hampir semua negara. Terhitung beberapa negara Eropa seperti : Inggris Raya, Portugal, Spanyol dan Italia terus mendorong pengesahan undang-undang anti-aborsi.

Pada masa itu larangan melakukan aborsi bersumber dari 3 alasan utama :

  1. Angka mortalitas yang tinggi membentuk sebuah pandangan bahwa prosedur aborsi berbahaya. Berbagai undang-undang kesehatan masyarakat yang dirancang bertujuan untuk melindungi perempuan yang mempertaruhkan nyawa mereka dalam proses aborsi karena merasa tidak memiliki pilihan
  2. Aborsi dianggap sebagai dosa dan sebuah ciri degradasi moral. Undang-undang bertujuan untuk menghukum dan menjadi tanda penolakan terhadap aborsi
  3. Melindungi nyawa janin

Sedangkan di Indonesia sendiri tindakan aborsi di rumah sakit atau klinik mulai diatur dalam Undang-Undang PP (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia) tahun 2014 mengenai Kesehatan Reproduksi di pasal 31 yang berbunyi :

  1. Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan
  2. Indikasi kedaruratan medis; atau
  3. Kehamilan akibat perkosaan
  4. Tindakan aborsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

Mengenai peraturan usia janin sebenarnya sudah selaras dengan peraturan-peraturan di negara lain seperti Amerika maupun Inggris. Aborsi dianggap ilegal saat pergerakan atau aktivitas janin sudah mulai terasa di dalam kandungan.

Meski begitu aborsi masih menjadi perdebatan yang tak ada habisnya dari pihak yang mendukung dan pihak yang menolak.

pro dan anti aborsi

Walau dengan berbagai alasan medis kepentingan kelangsungan hidup sang Ibu dan alasan ‘menghindarkan’ masa depan suram janin yang memiliki komplikasi, peraturan ini sering disalahgunakan.

Remaja Indonesia Pelaku Tertinggi Aborsi

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN), angka tertinggi pelaku aborsi bersumber dari remaja yang tidak mendapat pendidikan seksual memadai.

Hal ini mendukung laporan Institut Guttmacher : Abortion Worldwide 2017 : Uneven Progress and Unequal Access yang menyatakan bahwa secara global, angka aborsi di negara maju dan berkembang lebih rendah daripada negara yang rata-rata penduduknya mengalami kemiskinan. Hal itu disebabkan oleh peningkatan penggunaan alat kontrasepsi pada negara-negara maju dan berkembang.

Maka tidak heran jika di Indonesia justru terjadi sebaliknya. Klinik-klinik yang menawarkan prosedur aborsi kini bisa dicari dengan mudahnya di berbagai search engine smartphone ataupun komputer.

Masing-masing klinik yang menawarkan berbagai variasi prosedur aborsi dengan keywords aman, murah, terjamin, legal, rahasia, dll. seperti memiliki kecenderungan untuk ‘mengundang’ daripada ‘menyelamatkan’.

Efek Negatif Aborsi Pada Dokter dan Staf Medis

Menurut Rachel MacNair, Sindrom Pasca Aborsi tidak hanya mendatangkan efek psikologis negatif pada pasien, tetapi juga dokter dan staf medis yang melakukan tindakan.

Dilansir oleh www.life.org.nz, pada Februari 2003 Dinas Kesehatan Negara Bagian (State) Auckland membahas sebuah kasus dimana seluruh staf medis rumah sakit New Zealand menolak untuk melakukan aborsi pada janin berusia 12 minggu ke atas.

Proses pembuangan dan evakuasi janin bayi dengan usia tersebut membutuhkan para ahli bedah untuk memotong tubuh bayi secara manual, menghancurkan kepala, dan meletakkan semua potongan di atas sebuah nampan sebelum menyusunnya kembali seperti puzzle untuk memastikan tidak ada potongan yang tersisa di dalam kandungan.

Banyaknya prosedur yang dilakukan tanpa alasan medis yang cukup kuat membuat rumah sakit kehilangan tenaga-tenaga ahli yang terkena dampak psikologis dan trauma.

Respon Negara Lain Terhadap Aborsi

Sedangkan di Amerika, derasnya tuntutan dari para aktivis untuk melegalkan aborsi di semua negara bagian (state) tidak selalu berujung pada dukungan penuh pemerintah. Meskipun ada undang-undang yang mengatur tentang aborsi, tetapi klinik-klinik yang dapat melakukannya belum tentu tersedia.

Berbagai manuver yang dilakukan gerakan anti-aborsi mampu menghambat perkembangan klinik kuret tersebut. Tercatat dalam sebuah periode, hanya ada satu klinik di seluruh wilayah Missisipi yang menyediakan prosedur aborsi. Itu juga dengan syarat bahwa janin harus berusia 16 minggu ke bawah.

Taktik lain untuk membatasi akses untuk mendapatkan pelayanan aborsi adalah dengan meniadakan penggunaan asuransi.

Undang-Undang Regulasi Penyedia Aborsi (Targeted Regulation of Abortion Providers) juga menghambat penyedia layanan aborsi dengan berbagai peraturan yang kompleks dan tidak berkaitan dengan medis bahkan sampai kepada peraturan fisik gedung klinik.

Undang-Undang lainnya mengenai kewajiban untuk menjalani prosedur ultrasound, masa tunggu ataupun menjalani konseling membuat kaum perempuan di negara tersebut berpikir dua kali untuk menjalani aborsi.

Jika negara-negara maju dan berkembang mampu menurunkan angka aborsi dengan pendidikan seks yang berkualitas dan penggunaan alat kontrasepsi, peran klinik penyedia aborsi juga akan semakin tergerus.

Prosedur, usia janin dan kondisi medis pada akhirnya akan menjawab siapa yang ingin diselamatkan. Apakah nyawa janin, Ibu, atau klinik penyedia aborsi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *