3 Kondisi Medis yang Mengizinkan Wanita Melakukan Aborsi

Berdasarkan undang-undang kesehatan yang mengatur aborsi, Indonesia memang hanya melegalkan aborsi berdasarkan dua kondisi medis. Adapun kondisi medis yang dimaksud tersebut salah satunya adalah kehamilan pada korban pemerkosaan.

Sementara kondisi medis yang kedua adalah indikasi darurat kedesaan pada kehamilan usia dini yang dapat mengancam nyawa ibu/janin, janin menderita kelainan genetik berat, atau cacat bawaan yang tidak dapat disembuhkan sehingga menyulitkan janin bertahan hidup di luar kandungan, diantaranya seperti:

1. Kehamilan dengan Trisomi 18 atau Sindroma Edward

sindroma edward

Sindroma Edward (Trisomi 18) atau Trisomi E adalah kelainan genetik yang disebabkan adanya seluruh atau sebagian kromosom ekstra ke-18. Sindroma ini pertama kali digambarkan pada tahun 1960 oleh John H. Edward, di mana jumlah kromosom yang dimiliki oleh bayi dengan Sindroma Edwards salah.

Bayi dengan Trisomi 18 memiliki prospek kualitas hidup yang rendah. Bukan hanya karena 27 keterbatasan fisik yang dialaminya, sebagian bayi dengan Sindroma Edward disertai dengan abnormalitas otak seperti persarafan (myelinisasi) otak yang terhenti.

Pada bayi dengan Sindroma Edward, hanya 5 hingga 10 persen yang mampu bertahan hingga usia satu tahun pertama kehidupan. Selain mengalami gangguan perkembangan berat, bayi yang dapat bertahan seringkali mengalami kesulitan buang air besar (konstipasi) akibat kondisi otot perut yang lemah. Selain itu, dibutuhkan tindakan bedah untuk menangani kelainan jantung bawaan yang juga menyertai bayi dengan Sindroma Edward.

Kesepakatan Internasional sebagaimana yang tercantum dalam buku petunjuk resusitasi oleh American Academy of Pediatrics (AAP) dan American Heart Association (AHA) mengenai beberapa bayi tanpa pertolongan bantu pernapasan dan pompa jantung (resistansi) setelah lahir, salah satunya adalah bayi dengan Sindroma Edward.

Dengan begitu, bayi dengan kondisi ini hanya mendapatkan bantuan pernapasan oksigen bebas serta di observasi dengan perawatan pasif tanpa tindakan medis berarti.

Mengingat kemampuan bertahan hidup bayi dengan Syndroma Edward yang rendah serta kualitas hidup yang buruk, akan dilakukan analisa, konseling, dan konsultasi mendalam bersama kedua orang tua sebelum tenaga kesehatan atau praktisi medis memutuskan lebih jauh.

2. Janin dengan kelainan Anencepalus

Anencephalus

Kondisi medis yang memungkinkan aborsi ini merupakan kondisi dimana sebagian besar tulang belakang tengkorak serta otak bayi tidak terbentuk. Ini merupakan kelainan tabung saraf yang terjadi di awal perkembangan janin. Kondisi ini menyebabkan jaringan pembentuk otak mengalami kerusakan dan terjadi saat tabung saraf atas gagal menutup.

Prognosis kehamilan dengan anencepalus tergolong sangat rendah. Bayi yang lahir hidup, kemungkinan akan meninggal dalam waktu beberapa jam atau hari setelah dilahirkan.

Berdasarkan Kesepakatan Internasional sebagaimana yang tercantum dalam buku petunjuk resusitasi oleh American Academy of Pediatrics (AAP) dan American Heart Association (AHA) mengenai beberapa bayi tanpa pertolongan bantu pernapasan dan pompa jantung (resistansi) setelah lahir, bayi dengan Anencepalus merupakan salah satu diantaranya.

3. Janin dengan Multikistik Hygroma Colli

Ini merupakan kondisi dimana terjadi ketidak normalan dalam pertumbuhan sistem limfatik. Di mana terdapat higroma suatu kantong yang berisi cairan dan menyumbat sistem limfatik. Diagnosis menggunakan USG prenatal dapat diketahui sebelum kehamilan berusia 30 minggu.

Penyebab multikistik hygroma colli sangat bervariasi, termasuk diantaranya faktor lingkungan, faktor genetik, serta faktor-faktor lainnya yang masih belum diketahui secara pasti.

Jika tidak ditemukan adanya kelainan kromosom pada bayi, biasanya kondisi janin lebih baik dibandingkan adanya kelainan kromosom. Pada kasus dengan kelainan kromosom dan keadaan tertentu lainnya juga dapat menyebabkan terjadinya kematian di dalam kandungan.

Demikianlah 3 kondisi medis pada kehamilan yang membuat wanita masuk dalam kategori pengecualian, sehingga dianggap legal melakukan aborsi. Namun, keputusan tersebut harus berdasarkan pemeriksaan rekomendasi dari dokter.

Referensi :

http://www.alodokter.com/komunitas/topic/multikistik-hygroma-colli
http://icjr.or.id/data/wp-content/uploads/2017/12/Problem-Aturan-Aborsi-dalam-R-KUHP.pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *